Tuesday, 28 July 2015

UCAPAN TERIMAKASIH

         Sekarang izinkanlah saya untuk menyampaikan terimakasih kepada Institut Injil Indonesia yang telah memberikan hukuman atas pelanggaran yang saya lakukan. Sehingga, satu tahun masa skorsing tersebut dapat bermianfaat bagi saya sebagai masa koreksi dan perbaikan diri. Lebih daripada itu, banyak kesempatan untuk saya menambah pengalaman pelayanan; baik dalam gereja maupun diluar gereja. Bahkan, untuk menulis buku ini. Mungkin saja, kesempatan ini tidak akan saya dapatkan seandainya saya lolos dari hukuman tersebut.
          Saya berterimakasih juga kepada Ibu.Erni Takaliuang yang senantiasa memberikan kekuatan kepada saya ketika mengalami masa berat dalam pembentukan. Tidak hanya itu, beliau telah memotivasi saya untuk menjadi hamba Tuhan yang berkarya dan setia dalam pelayanan. Untuk teman-teman yang pernah hidup ber-asrama dengan saya di I-3, terlebih kepada teman-teman Dikaiosune Class yang dengan setia menemani saya dalam pembentukan dikelas secara khusus dan saat ini berada di berbagai tempat di Indonesia untuk melayani Tuhan. Keduanya telah memberikan banyak pengalaman yang menjadi pembelajaran untuk saya menjadi lebih dewasa lagi. Tidak lupa juga kepada adik-adik permuridan saya Vedde, Billy, Fernando dan Kerisman yang tidak pernah lupa memberikan dukungan dan doa. Untuk adik-adik saya Iin, Kley, Armando, Tya dan sahabat saya Anes, Indra dan Noved. Terlebih untuk Iin sang pustakawan yang telah menolong mencarikan buku-buku referensi untuk saya.
         Selanjutnya saya berterimakasih juga kepada setiap orang, persekutuan, radio, sekolah, universitas, yayasan, instansi-intansi pemerintah dan perusahaan yang pernah saya layani serta menjadi tempat untuk saya meneliti dan menguji materi tulisan saya. Sehingga, dari pengamatan tersebut banyak bahan yang saya peroleh untuk menuliskan karya ini, demi pertumbuhan rohani kita bersama. Terkhusus saya megucapkan banyak terimakasih kepada YPPIIB jayapura yang menjadi tempat pelayanan saya selama praktek satu tahun, GBI Altar Tabernakel Glow Fellowship Network Batam, Bitung dan Tomohon yang menjadi tempat pelayanan saya selama masa skorsing setahun.  Terutama kepada anggota SDK saya di Perum Valencia, Bida Asri I dan II, Batuaji, persekutuan wanita bijak dan pria diberkati di Batam. Tak lupa juga saya berterimakasih kepada Pdt. Dr. Herby Pelealu yang telah dengan senang hati menerima saya melayani di gerejanya sekalipun beliau tahu cacat moral yang saya miliki di I-3. Selain itu, beliau juga berbaik hati untuk memindahkan saya pelayanan di Tomohon dengan tujuan menambah pengalaman saya dalam hal bercocok tanam dan membangun rumah Tuhan. Pengalaman tersebut sangatlah berharga bagi saya. Selain itu, karena banyaknya waktu kosong yang saya miliki, pada akhirnya memicu minat saya untuk mengerjakan buku ini.
         Tak lupa juga saya berterimakasih kepada Bpk. Ev. Bertolens Am Abi dan Ibu Perida yang telah mementori saya selama enam bulan di Tomohon. Banyak teladan yang saya dapatkan antara lain dalam hal berkotbah, menulis buku, bercocok tanam, beternak, bekerja bangunan dan mebel. Terlebih lagi telah memasakkan saya selama enam bulan ini. Salam sayang untuk si Cie bot (Patricia Am Abi) yang selalu mengganggu saya dalam pengerjaan buku ini, tapi justru menambah kebahagian karena cerianya dapat mengusir kesunyian kompleks tempat saya tinggal. Tak lupa juga untuk Pak. Alex dan ibu selaku gembala di Bitung yang memberikan kepada saya kesempatan berkali-kali untuk saya menyampaikan materi ini kepada jemaat Tuhan di sana.
         Saya berterimakasih kepada om Wim, om Yance, om Ari, om Che, om Kribo, om Nes, om Ian, om Tating, om. Alter, om. Andi yang telah membangun Aula gereja di Tomohon dan telah mengajarkan bahasa daerah Pinaras kepada saya yaitu bahasa Tombuluk, serta menjadi teman saya bercanda selama bekerja disana. Juga untuk om. Edwin, om. Manik dan Leo, yang turut ambil andil dalam pembangunan gereja, terkhusus dalam membuat atap gereja. Satu lagi, terimakasih kepada kak Rian dan Citra yang sudah mengajari Ba Kanvas.
         Saya berterimakasih untuk keluarga besar saya di Kediri. Anggota Jemaat GTDI Anugerah di desa Gadungan Kec. Wates, secara keseluruhan yang selalu mendoakan saya sejak kecil dan merupakan tempat pertama pembentukan saya sebagai hamba Tuhan. banyak pengalaman yang saya dapat dan banyak kekuatan yang saya peroleh dari sana. Terimakasih juga kepada keluarga tercinta Mbah Sumini, Pakde Agus dan Budhe Tri, Om Kris, Paklik Antok dan Bulik Indah, Mas Hendra, Mas Ivan, Gaby, Nadine, Yosua dan Putri. Saya juga ingin memberikan penghargaan yang tinggi untuk kedua adik saya Bagus dan Titus yang selalu membuat saya rindu untuk pulang dan jalan-jalan bersama.
         Terimakasih juga kepada teman dekat saya, yang saya kasihi dan mengasihi saya serta selalu ada untuk saya baik saat senang maupun sedih, yang selalu memberikan dukungan untuk penulisan buku ini dan selalu percaya bahwa hidup saya bisa menjadi lebih baik. Terutama memberikan motivasi, inspirasi dan kado ulang tahun terindah yaitu “pesan untuk melakukan apa yang salah tulis.” Selanjutnya terimakasih yang tak terukur kepada orang tua, mentor, motivator, konselor, pasture, dan sekaligus sahabat yang selalu ada untuk saya yaitu ayah saya Pdt. Filipus Budi Hari dan ibu saya Pdt. Pirwardani yang selalu ada untuk saya dan mengasihi saya dengan kasih tanpa syarat dan tanpa Batas.
         Pada akhirnya saya dapat menghela nafas lega, karena kesalahan saya telah tertebus dengan terbitnya buku ini. tak dapat dipungkiri bahwa hadirnya buku ini terlebih dahulu menguliti kebusukan saya dan kebobrokan hidup saya. Hidup yang tidak sesuai dengan tujuan Ilahi Sang Pencipta; Hidup yang dipenuhi kebusukan dan kejijikan, yang membuat lingkungan saya tercemar; Hidup yang tak berbuah dan membuat orang tidak menikmati hidup rohani saya. Oleh karena itu, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menerapkan apa yang saya tulis, dan besar harapan saya bagi anda sekalian untuk berkerinduan sama dengan saya. Tuhan Yesus memberkati.          


                                    Tomohon, 14 Juli 2015 



Louis Budi Prasetyo,

No comments:

Post a Comment