Tuesday, 28 July 2015

prakata

PRAKATA
 “Seringkali, ketika orang belum percaya mulai tertarik kepada ajaran Kristus. Justru mereka terhalang dengan kehidupan orang Kristen yang tidak benar, tidak menghasilkan buah roh dan berbau busuk.”

         Berbuah merupakan bagian yang sangat penting dalam perkebunan. Seseorang yang menanam  pohon mangga pastilah menantikan buahnya bermunculan supaya dapat menikmatinya atau dijual untuk menghasilkan keuntungan. Sehingga, orang lain pun menikmatinya. Pertanyaan saya, jika saja pohon mangga yang anda tanam tidak menghasilkan buah, apakah yang akan anda lakukan? Mungkin anda akan menjawab, “saya biarkan saja, supaya membuat rumah saya sejuk dan rindang.” Jika jawaban anda seperti ini, maka pohon itu akan membuat halaman rumah anda kotor oleh daun keringnya atau setidaknya ulat-ulat dari pohon itu akan masuk rumah dan membuat anak-anak perempuan anda berteriak-teriak karena jijik. Saya rasa tidak ada gunanya. Mungkin juga, anda akan menjawab, “pohon itu akan saya potong karena hanya membuat kotor halaman saya, lebih baik kayunya dipakai untuk meja atau lemari.” Jawaban anda benar, setidaknya pohon itu masih menghasilkan keuntungan bagi anda. Tapi intinya, jika saja pohon mangga yang kita tanam tidak menghasilkan buah maka rasa kecewa ataupun kejengkelan timbul dalam hati. Pohon yang seharusnya berbuah tetapi tidak menghasilkan buah, tidaklah berkualitas dan tidak ada gunanya selain di tebang.
         Pada suatu pagi yang indah, saat melakukan perjalanan ke kota, Yesus merasa sangat lapar. Ia melihat pohon ara di pinggir jalan. Lalu, berjalan menuju pohon itu dan berusaha mencari-cari buah dari pohon ara tersebut. Tetapi, tidak satupun didapati-Nya, selain dedaunan saja. Melihat hal itu, Yesus berkata, “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya.” Seketika itu juga, pohon itu menjadi kering. Kisah ini menunjukan bahwa Yesus tidak menyukai pohon yang seharusnya berbuah tapi tidak berbuah (lih. Matius 21:18-22). Demikian tentunya semua orang, juga tidak menyukai pohon buah yang tidak berbuah.
         Ketika saya masih meniti pendidikan di Institut Injil Indonesia, Batu Malang. Saya sangat suka mengamati pohon klengkeng disebelah rumah dosen. Tepatnya di samping ruang makan dan ruang belajar kampus kami, yaitu Kantate. Pada musimnya, pohon itu selalu berbuah lebat dan terasa sangat manis untuk di nikmati. Tetapi, kami sangat segan mengambil untuk memakannya. Alih-alih, kami mencoba menunggu pohon klengkeng di samping ruang doa, tepatnya disamping kamar mandi ruang doa. Disitu terdapat satu pohon klengkeng yang besar dan kelihatan bertumbuh dengan sehat. Beberapa bulan kami menunggu buahnya, tetapi tidak satupun muncul, sekalipun pada musimnya. Satu tahun kemudian, buahnya tetap tidak muncul juga. Bahkan sampai saya pergi dari kampus tersebut, pohon klengkeng itu tetaplah pohon klengkeng yang tidak pernah menghasilkan buah. Dengan kata lain, pohon buah tersebut tidak berkualitas dan tidak berguna selain di tebang lalu dibakar.
         Sekali lagi saya katakan bahwa berbuah merupakan aspek yang sangat penting, tidak hanya mengenai pohon ataupun tanaman buah saja, melainkan juga sangat penting bagi orang percaya, seperti apa yang diungkapkan oleh Paulus dalam Roma 7:4, Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah. Dalam ayat ini, Paulus sangatlah mengharapkan supaya kita sebagai orang yang telah ditebus Kristus dan telah menjadi milik-Nya dapat berbuah bagi Allah. Bukan justru mandul atau tidak menghasilkan buah bagi Allah.
         Sejarah menunjukkan bahwa Bangsa Israel pernah mengalami kemandulan rohani, seperti yang tercatat dalam Hosea 9:10, yang mana Allah berkata, Seperti buah-buah anggur di padang gurun Aku mendapati Israel dahulu; seperti buah sulung sebagai hasil pertama pohon ara Aku melihat nenek moyangmu. Perkataan ini, Tuhan sampaikan untuk memuji kehidupan iman Israel mula-mula yang taat dan berbuah bagi Allah. Seperti yang dilakukan pada zaman Yosua.
         Kala itu Yosua melepas bangsa itu pergi ketempat yang telah ditetapkan bagi mereka diwilayah masing-masing sesuai dengan pembagian tanah yang dilakukan oleh Musa. Karena mereka telah berhasil menghalau orang Kanaan dari daerah mereka. Dalam perjalan hidup di tanah tersebut, Israel menundukan diri kepada Allah mereka; beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua dan sepanjang zaman para tua-tua yang hidup lebih lama dari pada Yosua, dan yang telah melihat segenap pebuatan  yang besar, yang dilakukan Tuhan bagi orang Israel. Melalui kisah tersebut, dapat dilihat betapa Israel berbuah dan Tuhan sangat menyukainya ketaatan mereka. Tetapi masa transisi terburuk dalam sejarah Israel adalah ketika Yosua bin Nun hamba Tuhan itu, mati pada umur seratus sepuluh Tahun (Hakim-hakim 2:8). Seketika itu juga muncul angkatan yang tidak mengenal Tuhan dan perbuatan tanganNya. Mereka meninggalkan Tuhan dan mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati Tuhan. Demikianlah mereka meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret (Hakim-hakim 2:10-13).
         Setelah titik ini, maka Israel menjadi mandul dan kehilangan buahnya. Kualitas yang dulunya mereka miliki telah hilang. Oleh karena itu, dalam Hosea 9:10b  tercatat demikian, “Tetapi mereka itu telah pergi kepada Baal-Peor dan telah membaktikan diri kepada dewa keaiban, sehingga mereka menjadi kejijikan sama seperti apa yang mereka cintai itu.” Jelaslah bahwa Israel yang dahulu berbuah banyak menjadi Israel yang tidak berbuah dan menjadi kejijikan bagi Allah. Kata ”kejijikan” ini saya akan menganalogikanya seperti buah yang berbau tidak enak, dipenuhi oleh ulat dan dikerumuni lalat-lalat yang membuat orang tidak menyukainya terlebih memakannya. Inilah buah yang busuk yang tidak disukai. Seperti halnya kehidupan Israel yang busuk dan tidak disukai oleh Tuhan. Kebusukan-kebusukan semacam inilah yang saat ini melapisi setiap persendian hidup orang percaya.
         Kita semua tahu bahwa pergumulah hidup orang percaya dewasa ini adalah bagaimana mereka dapat menghasilkan buah yang manis, sedangkan lingkungan tidak mendukung untuk menghasilkan buah tersebut. Saya mengambil contoh dari salah satu tempat yang merupakan penghasil minuman beralcohol dari pohon Aren. Ketika saya berbincang-bincang dengan salah satu orang yang kemungkinan berumur 59 tahun, Ia mengutarakan bahwa pekerjaannya adalah kuli bangunan. Pekerjaan ini sudah ditekuninya selama bepuluh-puluh tahun. Selain itu, ia memiliki usaha sampingan yang menurutnya sangat menyenangkan, karena mendapatkan hasil yang relatife memuaskan. Bahkan dalam tempo 1 minggu bisa mencapai penghasilan 400 ribu, sekalipun tidak terlalu berat dan meyita waktu. Pekerjaan tersebut adalah membuat “cap tikus”. Produk tersebut adalah minuman keras yang terbuat dari pohon aren dan memiliki nilai alkohol mencapai 40-70 %.[1] Jika saja dikonsumsi manusia, sekalipun hanya sedikit, pasti akan berakibat kepada kemabukan yang sangat berat, bahkan minuman ini disebut-sebut sebagai pembunuh nomor satu di Minahasa.[2] Jika ditelaah lebih dalam, daerah tersebut merupakan kantong Kristen, melainkan kehidupannya tidak mencerminkan kehidupan berdasarkan Firman Tuhan. Inilah yang saya maksudkan bahwa orang percaya saat ini tidak mampu menghasilkan buah karena lingkungan tidak mendukung untuk berbuah. 
          Keprihatinan ini yang selalu menggeliat dibenak saya dan mungkin saja dibenak anda juga. Entah apa penyebabnya tetapi yang pasti orang percaya saat ini banyak yang tidak dapat menghasilkan buah seperti yang diharapkan Tuhan Yesus. Kemungkinan besar disebabkan oleh kehidupan orang percaya pada zona yang nyaman. Artinya begini, jika saja lingkungan menganggap salah bagi orang yang memproduksi cap tikus, maka orang yang memproduksi cap tikus akan merasa hidupnya tidak tenang dalam menggeluti pekerjaan itu. Permasalahannya, lingkungan telah mengganggap benar seseorang yang memproduksi cap tikus. Maka, terang saja produsen merasa nyaman akan hal itu. Inilah yang dinamakan kesalahan yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi kebenaran”.
         Sisi kehidupan di kota lain pun tidak jauh berbeda, mereka terikat dengan percabulan, bahkan tidak sedikit yang memiliki kelainan seksual seperti lesbian, sekalipun rajin mengikuti ibadah pemuda ataupun ibadah minggu. Di samping itu, Salah seorang teman saya bercerita bahwa ketika berulang tahun, ia mengadakan syukuran di depan rumahnya dengan menyewa tenda, dan keyboard tunggal. Tidak hanya itu, ia pun membeli minuman keras sebagai pendamping pesta tersebut. Alhasil, pesta tersebut berakhir ricuh, disertai perkelahian. Hal yang paling menyedihkan adalah semua yang hadir pada  pesta tersebut merupakan orang Kristen, sedangkan tetangga sekitar adalah orang Muslim. Jika demikian adanya maka akan berakibat kepada tumpulnya pemberitaan Firman kepada orang tidak percaya. Dengan kata lain, orang yang belum mengenal Tuhan menjadi tidak tertarik dengan kehidupan Kristen yang terkesan tidak benar dan busuk.
         Mahatma Gandi pernah kecewa dengan kekristenan karena hal ini. Suatu hari ketika ia bekerja sebagai pengacara di Afrika Selatan. Ia sangat tertarik dengan ajaran Kristus, sehingga mempelajarinya dan mempertimbangkan untuk mengikut Kristus dengan memilih salah satu gereja di kota tersebut. Ketika ia mulai melangkahkan kaki untuk masuk kedalam gereja, salah seorang penerima tamu yang berkulit putih menghalanginya dan menanyainya dengan kasar, “mau kemana kamu orang kafir?” dengan lembut Gandhi menjawab, “saya ingin mengikuti ibadah di tempat ini.” Seketika ia diusir dengan nada yang tinggi, “enyah sajalah engkau dari sini, tidak ada tempat bagi orang kafir disini. Pergi sendiri atau aku menyuruh orang untuk melemparmu keluar?” Tindakan tersebut mengakibatkan Gandhi enggan untuk mengikut Kristus. Pelayan Tuhan yang seharusnya mewakili sifat Kristus, ternyata tidak memiliki kasih seperti Kristus. Oleh sebab itu, ia menyatakan statement berikut ketika ditanyai mengapa Gandhi menolak Kristus: "Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda." Mungkin hal tersebut pun terjadi di kantong Kristen, ketika orang belum percaya mulai tertarik kepada ajaran Kristus, justru mereka terhalang dengan kehidupan orang Kristen yang busuk.
         Saya tidak bermaksud menyalahkan atau menyudutkan kota tertentu saja, namun maksud saya hanya ingin mengangkatnya sebagai sample dari kantong-kantong Kristen saat ini yang jika diungkapkan secara jujur, memang secara kuantitas sangatlah baik, namun secara kualitas kerohanian sudah terpuruk. Antara lain daerah Manado, Papua, Ambon, Medan, NTT, dan kota-kota lainnya, yang sekalipun Kristen, namun kehidupan kegelapan masih menyelimuti daerah tersebut. Tidak dapat dipungkiri, bahwa fenomena ini terjadi akibat dari gereja yang lebih mementingkan kuantitas ketimbang kualitas umat. Gereja sibuk untuk mempercantik gereja dan mempromosikannya kepada umat dengan tawaran fasilitas-fasilitas yang modern; pendeta saling tuding dan bermusuhan dengan masalah saling mencuri domba; gereja-gereja sibuk mengadakan kkr dengan dana puluhan juta demi hadirnya umat yang banyak dan lebih banyak lagi dari sebelumnya; penginjilan-penginjilan tanpa follow up, Dsb. Hal itu baik, tetapi jika saja kualitas umat harus dikesampingkan, saya rasa ini tidak benar. Jika demikian, gereja harus secepatnya berbenah dan memikirkan kualitas umatya.
         Terlebih dari itu, sesungguhnya saya ingin katakan jujur bahwa buku ini juga muncul dari pergumulan saya selama masa skorsing satu tahun yang diakibatkan oleh ketidaktaatan saya terhadap lembaga. Saya menyadari bahwa selama pembentukan di Institut Injil Indonesia yang saya hormati, begitu banyak perbuatan saya yang tidak menghasilkan buah yang manis untuk dinikmati orang yang disekitar saya. banyak dari perbuatan saya yang justru busuk dan membuat orang lain tidak suka kepada saya. Mereka justru tersandung oleh tingkah laku saya dan kemudian mulai menjauhi saya. Saya ingin meninggalkan kebusukan tersebut dan rindu sebuah perubahan yang signifikan, sehingga menjadi pribadi yang berkualitas yang disukai oleh sesama terutama oleh Tuhan. Seperti halnya Samuel yang bertumbuh menjadi seorang yang disukai oleh Tuhan dan manusia (1 Samuel 2:26,”tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia.”)
         Analogi yang tepat untuk menggambarkan perubahan ini adalah methamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Sebagian besar orang jijik ketika melihat ulat, selain bentuknya yang menjijikan, ulat pun selalu membuat tanaman yang dihinggapi menjadi rusak dan busuk. Berbeda dengan kupu-kupu, yang banyak di sukai orang. Selain bentuknya yang indah. Kupu-kupu pun membuat tanaman yang dihinggapinya menjadi berbunga indah. Tapi jangan kuatir, karena ulat yang buruk rupa, bisa berubah menjadi kupu-kupu yang indah. inilah transformasi. Kita pun demikian, kehidupan kita yang busuk pun bisa berubah menjadi kehidupan yang berkualitas dengan cara methamorfosis, menanggalkan kebusukan, lalu, mengenakan tubuh baru, tubuh yang indah, tubuh yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus.
         Methamorpfosis inilah yang di sampaikan oleh Paulus bagi jemaat di Roma dengan berkata, ”Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Adapun dua kata yang ia pakai untuk membandingkan perubahan tersebut: Pertama, Menjadi serupa dengan dunia ini. Kata menjadi serupa berasal dari bahasa Yunani Susxematitsestai yang berasal dari kata dasar skeuma yang secara literal berarti bentuk fisik manusia atau lapisan luar dari manusia. Namun, maksud Paulus dalam konteks ini adalah perubahan diri dengan menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Sederhananya adalah kelihatan berubah tetapi sesungguhnya tidak berubah. Yesus sering memakai istilah munafik untuk menjelaskan hal ini Mat 23:1-36. Kemunafikan itu juga pernah dilakukan Petrus dan Barnabas (Gal 2:13). Analogi yang tepat untuk menjelaskan perubahan seperti dunia ini adalah “bunglon” yang berubah warna sesuai dengan tempatnyam padahal perubahan itu sementara saja. Perubahan jenis inilah yang dilarang oleh Paulus dengan kata μὴ (me) yang artinya “jangan” atau tidak boleh melakukan perubahan yang bersifat sementara saja.
         Kedua, berubahlah oleh pembaharuan budimu kata berubah berasal dari bahasa Yunani metamorphoustai, kata morphe bukan berati hanya bentuk fisik tetapi suatu bentuk atau unsur atau pokok yang tidak berubah-ubah. Perbedaan mendasar antara Skeuma dan Morphe ialah Skeuma merupakan bentuk fisik seseorang yang tidak sama ketika ia bayi dan ketika dewasa, tetapi morphe merupakan pribadi seseorang yang sama ketika ia bayi dan ketika dewasa. Memang perubahan yang kedua ini merupakan perubahan yang total baik luar maupun dalam seseorang. Ditambah lagi dengan kata pembaharuan Anakainosei yang berarti berubah menurut hakekat dan sifatnya. Berbeda dengan perubahan Neos yang berarti berubah waktu. Paulus mengalami perubahan tersebut ketika sebelumnya ia adalah pembunuh tetapi berubah (morphe) menjadi orang yang tidak pernah membunuh lagi (Kis 9:1-19). Jadi, Paulus mengharapkan perubahan yang dialami oleh orang percaya adalah perubahan permanent bukan temporer. Bukan seperti Bunglon yang berubah-ubah seperti tempat yang dihinggapinya.  Melainkan, seperti kupu-kupu yang sudah tidak bisa kembali lagi menjadi ulat. Inilah perubahan menjadi pribadi yang berkualitas. Pribadi yang paling disukai dan diinginkan.
         Analoginya seperti ini, seandainya anda membeli Charger laptop, manakah yang anda pilih? Barang imitasi yang hanya mampu bertahan 3 bulan saja karena murahnya atau barang original yang mampu bertahan lama karena kualitasnya? Tentunya, anda akan memilih yang berkualitas, bukan? Demikianlah kehidupan kita, ketika telah menjadi pribadi yang berkualitas, maka kita akan menjadi pribadi yang disukai oleh sesama kita, dan Tuhan kita pun akan disukai juga.
         Demikianlah kerinduan saya yang paling dalam. Saya tidak tahu apakah pergumulan ini juga menjadi pergumulan anda. Apakah teman anda juga meninggalkan anda? Atau rekan-rekan anda merasa tidak nyaman bersama dengan anda dan mulai meninggalkan anda? Atau anda juga mengamati bahwa kekristenan sekarang telah menjadi buah yang berbau busuk bagi orang belum percaya sehingga mereka tidak tertarik kepada Tuhan Yesus kita? Tetapi yang pasti, jika saja kebusukan ini terus menerus terjadi, maka tidak menutup kemungkinan kekristenan akan kehilangan generasi, dan muncul angkatan yang hidup tidak mengenal Tuhan, karena generasi baru tersebut tidak menikmati buah dari generasi sebelumya.
         Berdasarkan beberapa masalah diatas, jelaslah bahwa tidak ada jalan lain untuk menjadi cerminan Kristus, selain menanggalkan kebusukan dalam diri kita yang terdiri dari percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Selanjutnya, saya meyakini bahwa berbuah dalam roh dengan cara merenungkan dan melakukan Firman Tuhan; Berdoa dan belajar dari pengalaman/sejarahlah adalah solusinya. Dengan demikian, kita akan menjadi pribadi yang berkualitas. Oleh karenanya, saya akan memberikan solusi terhadap masalah ini, berdasarkan Galatia 5:22-23, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”


          [1] Theminahasa.net/Saguer-dan-Cap-Tikus.html
          [2] Kompasiana.com/21/05/13/Cap-Tikus-Minuman-Ciptaan-Dewa,-Pembunuh-Nomor-Satu-di-Sulut,-Karena-Itu-Brenti-Jo-Bagate.html

No comments:

Post a Comment